Kamis, 19 Januari 2012

Belajar melalui kegagalan

           Kata "gagal" sering diberikan makna adalah "tidak berhasil", sehingga orang yang mengalami kegagalan cenderung untuk pesimis dan tidak mau bangkit atau mengatasinya. Karena ada beberapa yang menganggap bahwa gagal berarti tidak mencapai tujuan kita, jadi ketika tujuan yang diinginkan sudah tidak tercapai apa yang harus dilakukan? hal ini bisa menimbulkan rasa stress atau kecewa dari orang tersebut.
       Tapi sebenarnya gagal bukan berarti tidak bisa bangkit untuk memperbaiki, malah terkadang dari kegagalan ini kita dapat belajar dari pengalaman sebelumnya, sehingga usaha-usaha yang membuat kita gagal cenderung untuk diperbaiki agar mendapatkan hasil yang lebih baik. Dan potensi-potensi yang ada pada diri sso bisa tergali dengan baik. 
      Kata "gagal"beberapa menganggap suatu hal yang positif dan ada beberapa yang negatif. itu dilihat bagaimana cara pandang mereka terhadap kegagalan itu dan usaha yang mereka lakukan. Gagal yang memiliki maksud negatif, bisa mempengaruhi kesehatan mental sso, jika ia terlalu mendalami kegagalan itu dan menyalahkan diri akan kegagalan itu, maka akan mengalami tingkat stres yang sangat mendalam, dan bahkan takut untuk bertemu dengan orang lain. Tapi jika memandang kegagalan sebagai suatu sisi yang positif, sso bisa mengatasi masalahnya dan mencoba cara yang terbaik untuk meningkatkannya, dengan rasa optimis yang cukup tinggi.

Minggu, 15 Januari 2012

Cara meningkatkan motivasi belajar

1. Memberi angka
Angka dalam hal ini sebagai simbol dari nilai kegiatan belajarnya. Banyak siswa yang justru untuk mencapai angka/nilai yang baik. Sehingga yang dikejar hanyalah nilai ulangan atau nilai raport yang baik. Angka-angka yang baik itu bagi para siswa merupakan motivasi belajar yang sangat kuat. Yang perlu diingat oleh guru, bahwa pencapaian angka-angka tersebut belum merupakan hasil belajar yang sejati dan bermakna. Harapannya angka-angka tersebut dikaitkan dengan nilai afeksinya bukan sekedar kognitifnya saja.

2. Hadiah
Hadiah dapat menjadi motivasi belajar yang kuat, dimana siswa tertarik pada bidang tertentu yang akan diberikan hadiah. Tidak demikian jika hadiah diberikan untuk suatu pekerjaan yang tidak menarik menurut siswa.

3. Kompetisi
Persaingan, baik yang individu atau kelompok, dapat menjadi sarana untuk meningkatkan motivasi belajar. Karena terkadang jika ada saingan, siswa akan menjadi lebih bersemangat dalam mencapai hasil yang terbaik.

4. Ego-involvement
Menumbuhkan kesadaran kepada siswa agar merasakan pentingnya tugas dan menerimanya sebagai tantangan sehingga bekerja keras adalah sebagai salah satu bentuk motivasi yang cukup penting. Bentuk kerja keras siswa dapat terlibat secara kognitif yaitu dengan mencari cara untuk dapat meningkatkan motivasi belajar.

5. Memberi Ulangan
Para siswa akan giat belajar kalau mengetahui akan diadakan ulangan. Tetapi ulangan jangan terlalu sering dilakukan karena akan membosankan dan akan jadi rutinitas belaka.

6. Mengetahui Hasil
Mengetahui hasil belajar bisa dijadikan sebagai alat motivasi belajar anak. Dengan mengetahui hasil belajarnya, siswa akan terdorong untuk belajar lebih giat. Apalagi jika hasil belajar itu mengalami kemajuan, siswa pasti akan berusaha mempertahankannya atau bahkan termotivasi untuk dapat meningkatkannya.

7. Pujian
Apabila ada siswa yang berhasil menyelesaikan tugasnya dengan baik, maka perlu diberikan pujian. Pujian adalah bentuk reinforcement yang positif dan memberikan motivasi yang baik bagi siswa. Pemberiannya juga harus pada waktu yang tepat, sehingga akan memupuk suasana yang menyenangkan dan mempertinggi motivasi  belajar serta sekaligus akan membangkitkan harga diri.

8. Hukuman
Hukuman adalah bentuk reinforcement yang negatif, tetapi jika diberikan secara tepat dan bijaksana, bisa menjadi alat motivasi belajar anak. Oleh karena itu, guru harus memahami prinsip-prinsip pemberian hukuman tersebut.

Hal senada juga diungkapkan oleh  Fathurrohman dan Sutikno (2007: 20) motivasi belajar siswa dapat ditumbuhkan melalui beberapa cara yaitu:
a) Menjelaskan tujuan kepada peserta didik.
Pada permulaan belajar mengajar seharusnya terlebih dahulu seorang guru menjelaskan mengenai Tujuan Instruksional Khusus yang akan dicapainya kepada siswa. Makin jelas tujuan maka makin besar pula motivasi dalam belajar.
b) Hadiah.
Hadiah akan memacu semangat mereka untuk bisa belajar lebih giat lagi. Berikan hadiah untuk siswa yang berprestasi. Di samping itu, siswa yang belum berprestasi akan termotivasi untuk bisa mengejar siswa yang berprestasi.
c) Saingan/kompetisi.
Guru berusaha mengadakan persaingan di antara siswanya untuk meningkatkan prestasi belajarnya, berusaha memperbaiki hasil prestasi yang telah dicapai sebelumnya.
d) Pujian.
Siswa yang berprestasi sudah sewajarnya untuk diberikan penghargaan atau pujian. Pujian yang diberikan bersifat membangun. Dengan pujian siswa akan lebih termotivasi untuk mendapatkan prestasi yang lebih baik lagi.
 e) Hukuman.
Hukuman akan diberikan kepada siswa yang berbuat kesalahan saat proses belajar mengajar. Hukuman ini diberikan dengan harapan agar siswa tersebut mau merubah diri dan berusaha memacu motivasi belajarnya. Bentuk hukuman yang diberikan kepada siswa adalah hukuman yang bersifat mendidik seperti mencari artikel, mengarang dan lain sebagainya.
 f)  Membangkitkan dorongan kepada peserta didik untuk belajar.
Strateginya adalah dengan memberikan perhatian maksimal ke peserta didik. Selain itu, guru juga dapat membuat siswa tertarik dengan materi yang disampaikan dengan cara menggunakan metode yang menarik dan mudah dimengerti siswa.
g) Membentuk kebiasaan belajar yang baik.
Kebiasaan belajar yang baik dapat dibentuk dengan cara adanya jadwal belajar.
h) Membantu kesulitan belajar peserta didik, baik secara individual maupun kelompok.
Membantu kesulitan peserta didik dengan cara memperhatikan proses dan hasil belajarnya.  Dalam proses belajar terdapat beberap unsur antara lain yaitu penggunaan metode untuk mennyampaikan materi kepada para siswa. Metode yang menarik yaitu dengan gambar dan tulisan warna-warni akan menarik siswa untuk  mencatat dan  mempelajari materi yang telah disampaikan..
i) Menggunakan metode yang bervariasi.
Metode yang bervariasi akan sangat membantu dalam proses belajar dan mengajar. Dengan adanya metode yang baru akan mempermudah guru untuk menyampaikan materi pada siswa.
j) Menggunakan media yang baik, serta harus sesuai dengan tujuan pembelajaran.



Sumber :
http://belajarpsikologi.com/cara-meningkatkan-motivasi-belajar-anak/#more-1235


Be You're Self

 Gagal dan Bangkit Kembali

Ketika jatuh dalam kegagalan, saya yakin kebanyakan dari anda akan mengkhawatirkan apa yang akan dikatakan oleh orang-orang di sekitar anda. Saudara, teman sekantor atau lingkungan pergaulan anda, bisa menjadi generator semangat ketika hendak memulai sesuatu. Namun, mereka juga bisa menjadi tambahan beban seberat 1 ton ketika anda gagal.

Ketahuilah bahwa anda tidak bisa menyenangkan setiap orang. Ketika anda selalu khawatir tentang apa yang orang-orang katakan, sebenarnya anda sedang hidup di dalam dunia mereka. Hidup anda tak ubahnya seperti seorang budak yang dirantai lehernya. Tugas anda hanya menyenangkan majikan dan setiap kali hendak melangkah ke arah yang diinginkan, leher anda ditarik dan kembali ketempat semula.

Sadarlah bahwa hidup anda adalah milik anda sendiri. Nasib anda, anda sendiri lah yang menentukan. Jangan hidup dibawah bayang-bayang orang lain. Percayalah, anda hanya akan menuai kritik tapi tidak mendapatkan bantuan apa-apa. Jadi jangan terlalu khawatir orang lain akan menuding anda ini dan itu selama yang anda lakukan adalah hal yang benar. Fokuslah pada apa yang harus dilakukan untuk merubah keadaan dan lakukanlah. Jangan biarkan orang-orang disekeiling anda menjadi batu sandungan. Lepaskan rantai di leher dan larilah meraih apa yang anda inginkan. Tidak ada yang lebih baik selain menjadi diri anda sendiri.

Testimoni

      Selama mengikuti mata kuliah bimbingan dan konseling, saya mendapatkan beberapa pengetahuan dan pemahaman akan bimbingan dan konseling itu sendiri. pengetahuan saya bertambah dengan kedatangan kak Ganda Mery yang merupakan salah satu alumni Psikologi Usu yang menceritakan akan pengalamannya bekerja sebagai konselor di sebuah lembaga. Kak itu mengatakan bahwa menjadi konselor sekolah sangat menarik, dimana sebenarnya tidak hanya menyangkut masalah anak tetapi juga orang tua juga terlibat dalam hal ini, untuk itu dalam menanganinya juga membutuhkan campur tangan pihak orang tua. dan juga mengatakan bahwa konselor sekolah masih banyak yang dibutuhkan di sekolah, tetapi terkadang terdapat banyak kendala, dimana pihak sekolah belum terlalu memahami akan peran konselor itu sendiri, sehingga dalam hal ini konselor dipandang sebagai orang yang santai dan lain-lain. tetapi di lain hal banyak sekolah yang membutuhkannya. Dari perkataan ini saya mulai memandang bahwa pekerjaan sebagai konselor bukannlah suatu hal yang mudah tetapi menarik dan akan mencoba untuk menghadapi tantangan yang akan muncul.
       Selain itu, pemberian tugas dalam hal ini tugas observasi yang salah satunya tugasnya yaitu wawancara dengan pihak konselor sekolah sehubungan dengan masalah yang sering muncul di skolah. dari sini, cukup menarik. bisa mengetahui secara langsung mengenai masalah yang ada, bagaimana respon guru, dan lain-lain. tugas ini menurut saya bermanfaat, selain melatih kemampuan untuk wawancara dengan konselor secara langsung tetapi juga setelah selesai membantu kelompok untuk saling bekerjasama dalam penyelesaian tugas tersebut, walaupun ada sedikit kendala dalam menyelesaikannya. tapi dengan adanya tugas ini kelompok bisa belajar untuk berani mengemukakan pendapatnya secara langsung jika ada masalah-masalah yang muncul, dan mencoba untuk saling memahami akan anggotanya masing-masing. 
      Mengenai UTS (Ujian tengah semester), saya sangat senang karena mendengar bahwa ujian akan diakan secara open book. tapi walaupun ujian open book, buku juga harus tetap dibaca. ketika mengikuti ujian UTS waktu itu saya awalnya kurang memahami instruksi yang diberikan oleh dosen, untuk itu saya bertanya kepada dosen secara langsung sehubungan instruksi untuk menjawab soal tersebut. setelah itu saya mencoba untuk mengerjakan soal tersebut. ketika mengerjakan soal nomor 2, saya agak sulit untuk menghubungkan antara kasus dengan teori yang ada di buku, karena kasus sehubungan dengan pemilihan pasangan dan dibuku berhubungan dengan konseling sekolah, tapi saya tetap mencoba untuk menjawabnya. setelah selesai mengerjakan saya mencoba memeriksa kembali jawaban yang saya berikan.
   Setelah UTS dilanjutkan dengan UAS (ujian akhir semester), UAS dilakukan secara online yaitu melalui blog. saya merupakan salah satu orang yang jarang dalam membuka facebook atau yang lainnya dan terkadang saya ketinggalan informasi dari teman-teman saya. Karena pemberian ujian seperti ini, mengajak saya untuk rajin membuka facebook dan blog untuk melihat informasi yang diberikan, tetapi juga ada beberapa teman saya mengingatkan untuk membuka blog. Menurut saya, hal ini bermanfaat bagi saya, karena banyak dari teman-teman saya dan dosen memberikan informasi melalui facebook, sehingga saya tidak lagi ketinggalan informasi yang ada. dan Ujian melalui Blog juga bagus dan baik. jadi ketika ada soal yang diberikan dosen, maka saya membaca kembali materi-materi yang diberikan sebelumnya dan mengingatkannya saya kembali.

Teori-teori konseling

1. Client Center Counseling
    Pada Client center counseling, yang berperan aktif adalah konselee mulai dari permasalahan yang diungkapkan,waktunya dan lain-lain. fokus pada masalah yang dialami oleh konselee, dalam hal ini konselor tidak memberikan jawaban atau nasehat sehubungan dengan pemecahan masalah yang dihadapi oleh konselee, tetapi konselee sendirilah yang dituntut untuk memahami masalahnya sendiri dan mencari solusi sehubungan dengan permasalahan yang dihadapi

2. Konseling Behaviouristik
    Pada konseling tipe ini tujuannya adalah merubah perilaku klien atau konselee. misalnya dalam hal ini klien sering bolos disekolah sehingga ia tidak bisa ujian, orang tuanya tidak tau akan hal ini, sehingga uang pembayaran sekolah terus dilakukan oleh orang tuanya. Jadi konselor berbicara dengan klien atau konselee untuk memperlihatkan bahwa perilaku yang ia lakukan itu tidak hanya merugikan dirinya sendiri tetapi juga kepada orang tuanya. disini juga bisa dipadukan dengan pemberian role play, misalnya ia berperan sebagai orang tua dan yang lain berperan sebagai dirinya. agar ia memahaminya, hal ini dilakukan seperti apa yang ia lakukan, ketika ia tahu itu salah, maka akan memungkinkan untuk terjadi perubahan perilaku

3. Konseling Rational-Emotive
     Konseling tipe ini tujuannya adalah untuk menghilangkan pemikiran-pemikiran yang irasional atau tidak masuk akal. misalnya ia menganggap bahwa semua orang harus menyukai dirinya tanpa terkecuali, jadi ketika ia mengetahui bahwa ada orang yang tidak menyukainya ia merasa depresi. Peran konselor dalam hal ini meyakinkan bahwa menjadi seseorang yang disukai atau tidak disukai itu merupakan hal yang wajar, karena setiap orang mempunyai pandangan akan diri kita itu berbeda-beda, sehingga menimbulkan kesimpulan yang berbeda pula akan diri kita. Tapi dalam Konseling ini, untuk merubah pemikiran sso membutuhkan waktu yang lebih lama, misalnya melakukannya dalam 5 kali sesi konseling

Jumat, 13 Januari 2012

Fase-fase dalam konseling sekolah

1. Pembukaan
    Dalam hal ini konselee dan konselor saling memperkenalkan diri satu sama lain, agar timbul rasa kedekatan   dan kenyamanan. misa;nya ketika baru ketemu konselor mengatakan selamat siang? dan mencoba memperkenalkan diri dengan konselee

2. Pengungkapan Masalah
    Dalam hal ini, konselee mampu untuk mengungkapkan masalah yang ia alami secara terbuka. misalnya dalam hal apa yang penyebab masalah, masalah yang dimunculkan dan lain-lain.

3. Penggalian Masalah
    Jika dalam hal ini masalah yang diungkapkan oleh konselee belum terlalu jelas, maka konselor dapat memperjelas dengan mempertanyakannya kembali kepada konselee. misalnya : Konselee : Saya bertengkar dengan suami saya ketika saya ingin meminta uang belanja, Konselor : Kira-kira apakah anda mengetahui mengapa suami anda bersikap seperti itu?

4.  Pemecahan Masalah
     Dalam memecahkan masalah yang dialami oleh klien, konselor tidak memberikan nasehat atau tanggapan secara langsung melalui konselor, tetapi dalam hal ini klien lah yang mampu untuk mengatasi masalahnya, peran konselor disini adalah mengarahkan dan membimbing klien dengan memperlihatkan potensi yang ada pada diri klien dalam mengatasi masalah yang ia alami. sampai klien dapat mengetahui pemecahan masalahnya dengan baik, maka proses konseling dapat diakhiri

5. Penutup
    Dalam hal ini sebelum proses konseling ditutup, konselor mencoba mendorong dan memotivasi  klien untuk bisa merealisasikan keputusan yang ia ambil, agar keputusan tersebut dapat eyakinkan dilaksanakan